SELAMAT DATANG......

Ini adalah Blog saya yang sudah mulai terisi dengan tulisan - tulisan...

Rencana saya adalah menjadikan Blog ini sebagai tempat pemberi motivasi (pencerahan) kepada siapa saja yang mau mengambil pelajaran darinya...

Saya sangat berterima kasih sekali kepada siapa saja yang memberikan masukan - masukan berharga demi sempurnanya Blog ini termasuk kepada para penulis yang tulisannya saya posting (dengan tetap memunculkan namanya) dan semoga beliau2 ikhlas dan saya do'akan juga semoga mendapat pahala dari-Nya (karena hanya itu yang dapat saya berikan)....

Kamis, 27 November 2008

The Second Chance

Pernahkan anda bermimpi, dimana dalam mimpi tersebut anda mengalami masalah yang saaangat berat dan anda ingin sekali segera keluar dari masalah tersebut dan berharap kalau sekiranya hal itu hanyalah mimpi saja.....dan akhirnya andapun terbangun dan sangat bersyukur sekali bahwa hal itu memang hanyalah sebuah mimpi saja....tetapi pernahkah anda merenung & berfikir bahwa itu adalah The Second Chance (Kesempatan Kedua) yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa (Al-Muqtadir) sebagai sebuah "Gift" seperti salah satu dari hal yang dimaksud dalam posting saya sebelumnya (Today is A Gift).

Atau pernahkah anda mengalami secara langsung masalah yang sangat berat yang harus anda lewati yang seolah-olah tidak ada jalan keluarnya sehingga membuat anda stress, tetapi kemudian oleh Yang Maha Pengasih (Ar Rahman) dan Maha Penyayang (Ar-Rahiim) akhirnya masalah (ujian hidup) tersebut bisa anda lewati (terlepas dari berapa "nilai ujian" yang anda terima dari-Nya).

Sekali lagi itulah The Second Chance atau mungkin Kesempatan yang kesekian kalinya yang diberikan-Nya kepada anda yang wajib kita syukuri dengan lebih mendekatkan diri kita kepada-Nya, karena tidak ada daya dan upaya kita kecuali dengan izin dari-Nya, tetapi sebagai manusia yang lemah ("mencari2 alasan") seringkali setelah selesai ujian hidup itu maka seringkali pula kita menjauh dari-Nya.

Hal itulah yang perlu kita sadari sehingga setiap waktu kita mempunyai kewajiban untuk memohon ampun dari Yang Maha Pengampun (Al-Ghafuur) dan memohon kepada Yang Maha Kuasa (Al-Muqtadir) dan Maha Penjaga (Al-Hafidz) agar hidup kita selalu dalam lindungan-Nya dan selalu dalam ridha-Nya untuk tetap berada di jalan-Nya yang lurus. Amiin ya Rabbal 'Alamiin...

Rabu, 26 November 2008

Today Is A Gift

“Yesterday is a history, tomorrow is a mystery, and today is a gift” (Master Oogway, Kungfu Panda)

Jika Anda sudah menonton film Kungfu Panda, pasti pernah mendengar kalimat di atas. Guru Oogway –seekor kura-kura tua- dalam satu kesempatan di tepi bukit mengucapkan kalimat penuh makna itu kepada Po, Panda gemuk nan lucu yang baru saja dinobatkan sebagai pejuang naga (dragon warriors).

Meski sempat dibuat terpingkal-pingkal selama menonton film ini, tetapi saya tidak ingin bercerita lebih jauh tentang film Kungfu Panda meski banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik. Karena saya lebih tertarik membahas kalimat bijak di atas yang sebenarnya mengandung makna terdalam dari kehidupan ini.

Kita diajarkan untuk selalu berdoa sebelum dan sesudah tidur. Doa sebelum tidur yang menyaratkan kepasrahan diri kepada Yang Maha Menguasai Kehidupan, kepada satu-satunya yang memiliki hak mematikan serta menghidupkan setiap insan. Hingga detik sebelum mata terpejam, tak satu pun yang mampu menguak rahasia Allah, apakah esok hari kita masih hidup atau berlanjut ke kehidupan berikutnya. Maka kemudian, di pagi hari Allah berkendak mengembalikan ruh kepada jasad yang tertidur, atau berkehendak pula menahan ruh dan membiarkan jasad itu tertidur selamanya.

Bagi yang diberi kesempatan untuk bangun di pagi hari, maka doa pun kembali terucap dengan melontarkan segenap pujian kepada Yang Menghidupkan dari kematian sementara selama tertidur. Sepenuhnya kita sadar, bukan kita yang membangunkan diri sendiri. Bukan karena alarm yang kita setting sesuai waktu yang diinginkan, tapi benar-benar karena Allah berkehendak memberi kesempatan kepada hamba-Nya.

Hari ini adalah anugerah terbesar dalam kehidupan setiap manusia. Karena ia takkan pernah tahu apakah masih punya kesempatan di hari esok. Hal yang patut dilakukannya pada hari ini adalah bersyukur dan kemudian mengisi hari itu dengan segunung kebajikan, berupaya sekuat hati mengurangi timbangan keburukan.

Belajar dari hari-hari yang sudah berlalu, tidak mengulangi kesalahan dan kekeliruan di masa lalu, kemudian melakukan yang lebih baik di hari ini seolah hari terakhir dalam hidup. Sebab kita memang benar-benar tidak akan pernah tahu apa yang bakal terjadi sesudah hari ini.

***

Semestinya belum berani kita memejamkan mata sebelum tahu persis timbangan kebaikan di hari ini melebihi keburukan yang dilakukan. Takutlah bila tak membawa cukup bekal saat menghadap Sang Penguasa hari pembalasan.

Sayangnya, begitu ringan seolah tanpa beban diri ini memejamkan mata. Seakan yakin esok masih bisa menatap mentari pagi. Ya Allah, ajari lidah ini untuk tak pernah lupa memuji-Mu dan mensyukuri hari disaat hamba masih bisa memohon ampunan-Mu. ( Bayu Gawtama, 9 Juli 2008 )

Selasa, 25 November 2008

C.E.M

“Pak maaf hari ini saya tidak masuk, motor saya rusak”
“Pak maaf kemarin saya tidak dapat hadir di meeting, saya mendadak sakit perut”
“Maaf Bu laporan belum selesai, laptop saya tiba-tiba rusak”
“Maaf saya terlambat Pak, tadi jalanan macet berat”

Apakah kalimat-kalimat di atas terdengar akrab di telinga Anda? Mungkin ada rekan Anda yang senang mengucapkan kalimat-kalimat sakti tadi? Atau jangan-jangan Anda sendiri sering mengucapkan kalimat di atas dan sejenisnya? Kalau ya, maaf ya, hehehe ... tulisan kali ini memang khusus buat Anda.

Kalimat-kalimat di atas adalah contoh kalimat “excuse” alias beralasan. Pada dasarnya semua orang punya sisi “si pembuat alasan” dalam dirinya masing-masing. Coba Anda ingat-ingat, dalam satu kesempatan, pasti Anda pernah melontarkan excuse. Entah alasan tidak datang ke kantor, alasan menunda pekerjaan, atau alasan terlambat pulang ke rumah. Saya sendiri juga pernah. Atau sering ya? Hehehe ...

Excuse ini manusiawi. Karena merupakan bagian dari mekanisme manusia dalam mempertahankan diri nya. Pada dasar nya manusia selalu ingin melindungi diri nya, karena nya, ketika sang “ego” merasa “diserang”, maka muncul naluri untuk bertahan. Diantaranya dengan mengemukakan alasan. Namun, Anda harus berhati-hati. Membuat excuse yang terlalu sering dapat membuat Anda mengidap penyakit yang saya sebut “Chronic Excuse Making” (pengidap penyakit membuat alasan yang kronis). Ini yang gawat.

Pengidap Chronic Excuse Making (C.E.M) ini akan selalu berlindung di balik alasan-alasan, untuk menutupi hal-hal yang tidak mau atau tidak mampu ia kerjakan. Seolah-olah, dengan menyampaikan excuse, maka kewajiban yang harus dilaksanakan sudah terselesaikan. Jadi jika ada suatu pekerjaan yang tidak terselesaikan, maka excuse lah yang akan dikedepankan. Mengapa datang terlambat? Kan ... macet. Mengapa tidak selesai? Kan ... saya sakit. Mengapa tidak datang? Kan ... tadi hujan. Dst.

Padahal kita semua tahu, yang namanya excuse tidak akan mengubah apa-apa. Kalau tidak selesai ya artinya tidak selesai. Apapun excuse-nya. Kalau tidak datang ya artinya tidak datang, apapun alasan yang kita berikan. Pengidap C.E.M kadang melupakan hal ini, karena terjebak dalam alasan-alasan yang dikemukakan.

Never trade results for excuses

Dalam buku “Winning Habits”, Dick Lyles bertutur tentang kisah Admiral John P.J. Farragut, seorang purnawirawan Angkatan Laut Amerika Serikat yang sangat sukses baik dalam karir militer maupun karir pasca dinas militernya. Dalam buku fiksi tersebut dikisahkan Admiral Farragut mengungkap rahasia suksesnya kepada pasangan muda bernama Albert dan Jennifer. Salah satu rahasia sukses sang Admiral diperoleh selama pendidikan militer-nya. Rahasia tadi berbunyi: “Never trade results for excuses”.

Dalam pendidikan militer US Navy yang penuh disiplin, ketika seorang calon perwira ditanya seniornya, dan ia tidak tahu jawabannya, maka tidak ada jawaban “I don't know”. Yang ada hanyalah “I'll find out, Sir!” Betapapun sulitnya pertanyaan tadi. Bisa dibayangkan, jika kelak mereka bertugas di sebuah kapal, dalam situasi genting, jika ada persoalan yang harus dipecahkan, maka “I don't know” memang sama sekali bukan jawaban. Padahal, selama pendidikan, mereka akan sangat disibukkan dengan berbagai program belajar yang tidak memungkinkan bagi mereka untuk berlama-lama menemukan jawaban atas pertanyaan yang diajukan seniornya. Dan ketika sang calon perwira tidak berhasil menemukan jawaban, maka hanya ada satu alasan yang dapat disampaikan: “No excuse, Sir!” Ya, tidak ada excuse. Karena excuse apapun yang dikemukakan tidak dapat menggantikan jawaban yang seharusnya disampaikan.

Para calon perwira US Navy tadi belajar, bahwa excuse, bagaimanapun adalah alasan bahwa kita gagal memenuhi komitmen yang telah kita sampaikan. Betul, bahwa kadangkala ada hambatan yang menghalangi. Namun orang-orang sukses adalah mereka yang terbukti selalu bisa mengatasi hambatan yang menghalangi komitmen yang telah mereka berikan, dan tidak menyerah dengan mudah oleh alasan-alasan sederhana.

Push it to your limit

Dulu, sewaktu masih menjadi karyawan, saya sering menerima “mission impossible”. Salah satu yang saya masih ingat adalah tugas untuk mengikuti tender di sebuah perusahaan yang berlokasi di luar Jawa. Sebenarnya ini tugas biasa. Namun kali ini dengan waktu untuk menyiapkan proposal dan dokumen tender yang sangat singkat. Hanya dua hari kerja. Biasanya butuh waktu paling cepat dua minggu untuk menyiapkan dokumen yang sama. Namun kali ini tidak ada ampun, saya hanya punya waktu dua hari saja. Hari pertama praktis habis untuk menyiapkan dokumen pendukung, mengcopy nya dan memasukkan dalam folder-folder yang akan dibawa ke tender. Di hari pertama saya pulang jam 12 malam. Hari kedua, saya baru selesai membuat proposal teknis tepat jam 12 malam, sementara jam 6 pagi saya harus sudah ada di Bandara. Dan susahnya waktu itu saya tinggal di daerah Bekasi, lebih dari 1 jam perjalanan dari kantor saya.

Rasanya nyaris tidak mungkin pagi harinya saya bisa ikut tender. Saya hampir menyerah. Sendirian, jam 12 malam, di kantor yang gelap dan gerah (di kawasan Sudirman overtime untuk lampu dan AC sangat mahal), belum makan malam, dan membayangkan teman-teman dan atasan saya waktu itu yang semua sudah lelap tertidur. Hampir saya memutuskan untuk menyerah. Saya sudah siap membuat alasan. Mulai dari mendadak laptop saya crash, mendadak radiator mobil saya bocor, mendadak sakit perut, tiba-tiba meriang, dst. Apapun bisa saya sebutkan supaya besok ada alasan tidak datang di tender tadi. Dan mendadak juga saya jadi kreatif sekali membuat alasan. Namun, semakin banyak alasan yang saya karang, semakin saya tersadar, bahwa: Tidak ada gunanya membuat excuse. Excuse apapun yang saya buat, tidak akan pernah menjadi penggati dari fakta yang akan saya terima besok: bahwa saya gagal ikut tender. Ini yang saya tidak bisa terima. Dan saya mentertawakan kebodohan saya.

Waktu itu saya segera memutuskan membawa pulang semua folder kerumah, merapikan folder dan amplop di rumah, mencari-cari meterai dan segel jam 02 pagi (dan ajaibnya dapat), memasukkan semua amplop kedalam travel bag, mandi, ganti baju, dan langsung ke Bandara. Saya berhasil berada di lokasi tender tepat jam 08.30 pagi, 30 menit sebelum tender dimulai. Saya puas. Perjuangan saya selama dua hari tidak sia-sia.

Namun saya kalah dalam tender tersebut. Padahal dokumen yang saya siapkan tanpa cela. Apa boleh buat, solusi yang kami tawarkan secara komersial kurang kompetitif. Meskipun kalah, tentu saja saya pribadi masih untung. Lho, kok untung? Bukan, bukan untung uang SPJ. Perusahaan tempat saya bekerja tidak mendapatkan projectnya, tapi saya tetap beruntung memperoleh pengalaman yang sangat berharga. Bahwa ternyata saya bisa memenuhi komitmen yang saya berikan, tanpa harus memberikan excuse apapun, ketika saya berusaha hingga limit saya.

Jadi kalau Anda mulai merasakan gejala-gejala C.E.M, segera coba dua resep tadi: (1) Ingatlah, bahwa excuse tidak dapat menggantikan hasil akhir, dan (2) Cobalah sampai limit Anda dahulu, sebelum menyampaikan excuse. Semoga dengan demikian kita semua (termasuk saya) bisa terhindar dari penyakit C.E.M.

Penulis : Fauzy Rachmanto ( http://fauzirachmanto.blogspot.com)

Sabtu, 22 November 2008

Malam Yang Ceria

Semalam menjadi malam yang ceria untuk anak - anakku khususnya yang perempuan yang saat ini keduanya berada di Jakarta pada saat ditelepon oleh Ummi dan Abi-nya yang berada di Padang, suaranya terdengar ceria sekali dengan beberapa kali tertawa kecil...ada apa rupanya dengan anak perempuanku itu?

Ternyata pada sore hari sebelum ditelepon itu, anak - anakku menonton film VCD pernikahan Ummi & Abi-nya pada 7 tahun yang lalu (tak terasa waktu begitu cepat berlalu..) yang jelas saja wajah & tubuh kami berbeda dengan 7 tahun lalu dan itu rupanya yang membuat anak perempuanku yang belum genap 4 tahun tertawa - tawa dengan ceria, yang menurutnya sangat lucu dan berbeda sekali dengan aslinya.

Cerianya anak - anak kami di Jakarta membuat kami sangat bahagia sekali di Padang, mengapa begitu? mengapa anak - anak kami jauh dari orang tuanya? padahal mereka masih sangat kecil & sangat butuh dengan kasih sayang & pendidikan dari orang tuanya.

Ya begitulah yang terjadi...cerita awalnya sangat panjang, tetapi pada akhirnya kami merasakan hikmahnya yang berharga...anak - anak kami yang masih berumur kurang dari 4 tahun (perempuan) & 2 tahun (laki - laki) dibawa oleh kakek & neneknya jalan - jalan ke Jakarta setelah Iedul Fitri kemarin dan rencananya pada pertengahan Desember besok saat adikku menikah di Jakarta, kami sebagai orang tuanya akan membawanya kembali ke Padang.

Rumah kami di Padang yang biasanya ramai oleh suara - suara teriakan, tawa & tangis anak - anak kami kini menjadi sunyi..hanya kami berdua saja yang tinggal & itu membuat kami lebih menyadari pentingnya kehadiran anak - anak bagi sebuah keluarga, tetapi bukan itu yang membuat kami sedih karena hampir setiap hari kami selalu menelpon anak - anak kami dan bertanya apa saja yang sudah mereka lakukan...

Pada awalnya mereka sangat senang sekali dapat jalan - jalan kemana saja...tetapi setelah satu bulan berlalu kami merasakan pada saat kami menelpon, anak laki - laki kami sudah tidak mau bicara lagi di telepon sedangkan anak perempuan kami yang lebih besar sudah mulai malas bicara kalau tidak dipaksa atau diceritakan hal - hal yang menarik baginya....itulah yang membuat kami bersedih karena kami tahu & menyadari bahwa rupanya mereka sudah mulai kangen/rindu dengan orang tuanya yang hanya dapat didengar suaranya saja......

Tetapi kejadian semalam membuat kami kembali bahagia, karena rupanya anak - anak kami sudah mulai ceria kembali pada saat kami telepon dan bercerita panjang sampai lebih dari setengah jam kami telepon dan terpaksa harus kami akhiri karena kami harus makan malam.

Ya rupanya rasa kangen dan rindu anak - anak kami dapat terobati walaupun hanya dengan menonton filmnya saja....sabar ya anak - anakku sayang, Insya ALLAH kita akan bertemu dan bersama lagi....

Jumat, 21 November 2008

Lima Detik Pertama Penentu Sukses

Sukses, mungkin tidak satupun manusia di dunia ini yang tak ingin meraihnya, karena bahkan seorang yang berencana bunuh diripun tak ingin mengalami kegagalan. Maksudnya, orang akan menanggung malu teramat besar jika upaya bunuh dirinya ternyata tidak berhasil, meskipun seharusnya ia bersyukur. Mungkin terlalu ekstrim jika yang diambil contoh adalah soal bunuh diri, namun hal itu sekedar ingin memberikan gambaran bahwa untuk hal paling hina pun orang berusaha maksimal untuk merealisasikannya.

Apapun, untuk meraih sukses, kuncinya adalah rencana yang matang dan usaha yang maksimal untuk menjalankan semua yang telah terencana itu. Dalam prinsip manajemen, langkah ini biasa dikenal dengan, Rencanakan Apa Yang Hendak Dikerjakan, dan Kerjakan Apa yang Sudah Direncanakan. Artinya, jika keluar dari prinsip tersebut, bisa jadi satu keniscayaan bahwa kegagalan segera menghampiri Anda.

Namun, tahukah Anda apa yang paling menentukan dari semua proses awal menuju kesuksesan ketika hendak memulai satu upaya merealisasikan semua rencana? Rahasia sukses seseorang dalam meraih semua impiannya, entah itu berkenaan dengan karir, hubungan interpersonal atau apapun yang menjadi obsesinya ternyata ada pada lima detik pertama setiap langkah awalnya. Lima detik begitu menentukan? Tepat! Karena yang harus Anda lakukan pada lima detik pertama itu adalah kunci sukses nomor satu yang tidak boleh dilewatkan, satu hal yang sangat mudah dan praktis untuk dilakukan: Tersenyum. David J Lieberman dalam sebuah buku laris yang berjudul, Get Anyone To Do Anything menyebutkan, taktik nomor satu untuk menciptakan kesan pertama yang luar biasa tetapi mudah dilakukan adalah: Tersenyum.

Mengapa senyum? Jangan pernah pernah menganggap sepele tersenyum, karena Rasulullah pun memberikan nilai sedekah untuk setiap senyum yang kita berikan kepada saudara kita. Selain itu, senyum mampu menciptakan empat hal yang luar biasa: Menimbulkan rasa percaya diri, kebahagiaan, dan semangat. Dan yang lebih penting, tersenyum menandakan penerimaan yang tulus.

Orang yang tersenyum dianggap sebagai orang yang penuh percaya diri karena ketika kita sedang grogi atau tidak yakin dengan diri kita atau sekitar kita, kita cenderung untuk tidak tersenyum. Tentu saja tersenyum menimbulkan kebahagiaan sehingga akan mempertemukan kita kepada orang-orang yang bahagia karena kita melihat mereka dengan cara yang positif. Semangat sangat penting untuk menciptakan kesan yang baik karena semangat itu dapat menular kepada orang lain. Dengan tersenyum menunjukkan bahwa Anda menyenangi tempat dimana Anda berada dan senang bertemu dengan orang yang Anda temui sehingga pada gilirannya dia akan semakin tertarik untuk bertemu Anda. Pada akhirnya, tersenyum menunjukkan penerimaan yang tulus dan menyebabkan orang lain tahu bahwa Anda mau menerima dia dengan tulus.

Anda tentu masih ingat pesan sebuah iklan produk parfum pria yang pernah ditayangkan di TV yang berbunyi, “Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda …”. Ya, kesan pertama, itulah yang harus Anda ciptakan untuk bisa memulai segalanya lebih lancar sehingga kesuksesan seolah sudah digenggaman Anda. Dan tersenyum, jelas cara yang paling ampuh untuk menciptakan kesan pertama yang mengagumkan. Berkenaan dengan kesan pertama ini, ada sesuatu yang disebut pengaruh pertama, yakni sebuah proses dimana kesan pertama kita terhadap orang lain menyebabkan kita menilai perilaku berikutnya atas dasar kesan pertama kita. Ini artinya, kesan pertama kita terhadap seseorang sangat penting karena segala sesuatu yang kita lihat dan kita dengar selanjutnya disaring melalui pendapat kita yang pertama. Akibatnya, Anda menciptakan citra orang tersebut sebagaimana ketika mula-mula Anda bertemu dengannya dan Anda melihat perilakunya pada masa-masa selanjutnya melalui citra ini. Jadi, apabila kesan pertama seseorang terhadap Anda baik, maka dia akan cenderung lebih baik dalam menilai anda pada masa-masa selanjutnya.

Dimanapun, kapanpun, bersama siapapun, sedang apapun ketika Anda tengah berinteraksi dengan orang lain, jadikan senyum sebagai modal utama Anda. Senyum bisa menjadi senjata yang paling ampuh dalam berbagai kondisi, seperti hubungan interpersonal dan interelasi, saat interview, wawancara dan lain sebagainya. Sebagai ingatan, jangan pernah sia-siakan momentum awal (detik-detik pertama) untuk tidak menjadikannya sebaik mungkin, karena percakapan dan hubungan Anda selanjutnya akan disaring melalui momentum awal ini, dengan demikian akan menciptakan kesan yang sangat baik. Itulah sebabnya mengapa tersenyum itu sangat penting. Lakukanlah dengan segera dan senyum akan menjelaskan banyak hal tentang diri Anda: Semuanya Positif. (Bayu Gautama, 18/12/2002)

Selasa, 18 November 2008

My First Trying

Sebelumnya saya pernah dengar tentang BLOG, tetapi menurut pemikiran saya hal itu pasti sulit untuk membuatnya... sehingga saya tidak pernah mau mencobanya.

Tetapi setelah rekan kerja saya membuatnya dan mengatakan bisa membuatnya hanya dalam waktu singkat saja, saya menjadi tertarik kembali dan kemudian mencobanya...dan ternyata memang mudah...

Itulah yang sering kali kita lakukan...kita seringkali menganggap sesuatu sulit dalam fikiran kita padahal kita belum pernah belajar dan mencobanya..

Untuk itulah...saya mengajak kepada rekan - rekan semuanya, coba & buktikan dahulu sebelum kita mengambil keputusan..

Semoga Sukses